Saturday, 1 January 2011

Bisnis: Perilaku Konsumen

  PERILAKU KONSUMEN
Konsumen adalah orang atau badan usaha yang melakukan kegiatan konsumsi, yaitu mengurangi atau menghabiskan nilai guna dari suatu barang. Berikut ini akan dijelaskan perilaku-perilaku konsumen dalam kehidupan.

1.    Manfaat dan Nilai Barang
a)      Manfaat atau Guna Barang
1.      Kegunaan Bentuk
Suatu barang akan lebih berguna jika dirubah ke bentuk yang lain. Contoh : kayu batangan yang lebih berguna jika dirubah menjadi barang mebel, seperti meja, kursi, lemari, rak buku, dan lain-lain.

2.      Kegunaan Tempat
Suatu barang akan lebih berguna jika dipindahkan ke tempat yang lain
Contoh : Pakaian tebal yang lebih berguna jika dipakai di tempat berhawa dingin.
3.      Kegunaan Kepemilikan
Suatu barang akan lebih berguna jika digunakan oleh orang yang membutuhkan barang tersebut. Contoh : Buku yang dipakai oleh pelajar lebih berguna daripada diletakkan di etalase.
4.      Kegunaan Waktu
Suatu barang akan lebih berguna di waktu-waktu tertentu. Contoh : Obat yang berguna jika digunakan saat sakit.
5.      Kegunaan Pelayanan
Suatu barang akan lebih berguna jika dapat memberika jasa. Contoh : Televisi atau radio akan lebih berguna jika ada siarannya.
6.      Kegunaan Dasar
Suatu barang akan lebih berguna setelah diolah dari bahan baku / bahan dasar menjadi barang jadi. Contoh : Kapas yang lebih berguna jika diolah menjadi benang untuk dibuat menjadi pakaian.

b)     Nilai Barang
Suatu barang memiliki nilai jika dapat memenuhi kebutuhan manusia. Semakin banyak guna dari barang / jasa tersebut, seakin banyak pula nilainya.
1.      Nilai Pakai
a.      Nilai Pakai Objektif
Nilai pakai objektif adalah nilai pakai suatu barang dilihat dari keampuannya dalam memenuhi kebutuhan manusia pada umumnya. Contoh : makanan dan minuman mampu memeuhi kebutuhan pokok manusia.
b.      Nilai Pakai Subjektif
Nilai pakai subjektif adalah nilai pakai barang yang diberikan oleh penggunanya. Nilai pakai subjektif setiap orang berbeda-beda, tergantung dari kemampuan barang tersebut untuk memenuhi kebutuhan penggunanya. Contoh : Buku pelajaran sangat berguna bagi pelajar, tetapi tidak terlalu bagi petani.

2.      Nilai Tukar
a.      Nilai Tukar Objektif
Nilai tukar objektif adalah kemampuan suatu barang untuk ditukar dengan barang / jasa lainnya. Contoh : Emas yang dapat ditukar dengan uang sesuai dengan nilai tukarnya.


b.      Nilai Tukar Subjektif
Nilai tukar subjektif adalah nilai yang diberikan seseorang terhadap suatu barang dan jasa, karena dapat ditukarkan dengan barang atau jasa lainnya untuk memenuhi kebutuhan. Contoh : Tarif jasa becak dari stasiun menuju pasar Rp 5000,- tetapi menurut calon penumpang hanya Rp 4000,-

2.    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Konsumsi
a)      Pendapatan
Semakin besar pendapatan seseorang, semakin besar pula tingkat konsumsi untuk memenuhi kebutuhannya.
b)      Tingkat Harga
Jika harga suatu barang naik, konsumen akan mengurangi pembelian agar bisa mencukupi kebutuhannya yang lain.
c)      Ketersediaan Barang dan Jasa
Jika barang yang diperlukan tidak tersedia, konsumen tidak dapat membeli barang tersebut, walaupun uang yang dimliki mencukupi.
d)      Selera
Konsumen akan membeli barang yang disukainya walaupun dengan pengorbanan yang besar. Sebaliknya konsumen tidak akan membeli barang yang tidak disukainya walaupun uang yag dimiliki mencukupi.
e)      Lingkungan Sosial Budaya
Tingkat konsumsi dari masyarakat dengan budaya yang berbeda akan menyebabkan tingkat konsumsinya berbeda pula. Contoh : jika ada orang yang meninggal, masyarakat Bali perlu mangadakan upacara ngaben dengan biaya yang tidak sedikit, tetapi utuk masyarakat Jawa hanya cukup diadakan penguburan.
f)        Prakiraan Harga Masa Mendatang
Konsumen akan berusaha memborong suatu barang jika diketahui harga barang tersebut akan naik dalam beberapa waktu mendatang.

3.    Hukum Gossen
Seorang ekonom Jerman bernama Herman Heinrich Gossen mencoba menyelidiki cara pemuasan kebutuhan manusia terhadap barang dan jasa. Hasil penelitian Gossen ini menghasilkan hokum Gossen I dan hokum Gossen II.
Sebelum mempelajari hokum Gossen I dan II, kita perlu mempelajari tentang kegunaan total dan kegunaan marginal. Kegunaan total adalah total kepuasan seorang individu yang diperoleh dari konsumsi sejumlah produk dalam suatu periode waktu tertentu. Sedangkan kegunaan marginal adalah peningkatan kepuasan eorang konsumen karena mengonsumsi satu unit tambahan barang atau jasa. Kebanyakan barang dan jasa memiiki kegunaan marginal yang semakin menurun. Berikut ini penjelasan mengenai hokum Gossen.
a)      Hukum Gossen I
Hukum Gossen I berbunyi : “Jika jumlah suatu barang yang dikonsumsi dalam jangka waktu tertentu terus bertambah, maka kepuasan total yang diperoleh juga bertambah. Bahkan bila konsumsi terus dilakukan, pada akhirnya tambahan kepuasan yang diperoleh akan menjadi negatif dan kepuasan total manjadi berkurang.”
Contohnya adalah Rudi yang merasa haus, sehingga butuh untuk minum air. Dalam gelas pertamanya Rudi merasa sangat puas, sehingga bisa dinilai 10 util (util = satuan kepuasan). Rudi masih merasa haus, sehingga masih menginginkan beberapa gelas air lagi. Dalam gelas kedua Rudi juga merasa puas, namun karena perutnya sudah terisi air dari gelas pertama, kepuasan yang diperolehnya tidak sebesar gelas pertama, yaitu 5 util, sehingga kepuasan totalnya menjadi 15 util. Pada gelas ketiganya, Rudi masih mendapat kepuasan, yaitu 2 util, dan kepuasan totalnya manjadi 17 util.
Tetapi jika konsumsi tetap dilakukan, air yang diminum akan menyebabkan sakit karena perutnya sudah penuh dengan air. Karena menyebabkan penderitaan, kepuasan yang didapat menjadi negatif, yaitu -4, dan kepuasan totalnya menurun menjadi 13.

Jumlah Porsi Nasi
yang Dikonsumsi
Kepuasan Total
(Total Utility)
Kepuasan Marginal
(Marginal Utility)
0
1
2
3
4
0
10
15
17
13
0
10 = (10 –   0)
5 = (15 – 10)
2 = (17 – 15)
-4 = (13 – 17)


Pada kolom diatas, kepuasan marginal memperlihatkan penurunan, yaitu dari 10, 5, 2, dan akhirnya -4. Ketika kepuasan marginal menjadi negatif ( -4 ), kepuasan totalnya menjadi berkurang ( dari 17 menjadi 13 )..
Hukum Gossen I memiliki kelemahan, yakni setiap orang tidak akan memuaskan satu macam kebutuhan saja, tetapi setelah mencapai titik tertentu akan menyusul kebutuhan yang lain.


b)     Hukum Gossen II
Hukum Gossen II dibuat untuk melengkapi kelemahan hukum Gossen I, karena pada kenyataanya konsumen memerlukan bermacam-macam jenis barang dan jasa.
Hukum Gossen II berbunyi : “Seorang konsumen akan membagi-bagi pengeluaran uangnya untuk membeli berbagai macam barang sedemikian rupa hingga kebutuhan-kebutuhannya terpenuhi secara seimbang.”
Pembelian berbagai barang ini sedemikian rupa hingga rupiah terakhir yang dibelanjakan untuk membeli sesuatu memberikan kepuasan masrginal yang sama. Seseorang tidak akan menghabiskan uangnya untuk barang / jasa yang sama, tetapi uang yang dimilikinya digunakan untuk memenuhi kebutuhan lainnya sesuai dengan tingkat kebutuhannya.
Contohnya, Alice berpenghasilan Rp 600.000,00. Untuk memenuhi semua kebutuhannya sebulan diperlukan uang sebesar Rp 750.000,00. Cara agar Alice mampu memenuhi kebutuhannya selama sebulan adalah dengan membuat tabel pemuasan kebutuhan secara vertikal dan horizontal. Secara horizontal dari data jenis kebutuhan yang harus dipenuhinya, secara vertikal diurutkan jumlah kebutuhan yang harus dipenuhi. Berikut ini contoh dari tabel pemuasan kebutuhan.

Jumlah
Makan
Pakaian
Perumahan
Kesehatan
Kesenangan
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0

9
8
7
6
5
4
3
2
1
0


8
7
6
5
4
3
2
1
0



7
6
5
4
3
2
1
0




6
5
4
3
2
1
0
Jumlah
55
45
36
28
21

Dari tabel diatas, terlihat bahwa makan mempunyai nilai tertinggi yaitu 10, pakaian 9, perumahan 8, kesehatan 7, kesenangan 6. Golongan kebutuhan marginal adalah kebutuhan kesenangan. Jika seluruh penghasilan Alice digunakan untuk makan, nilai kepuasannya berjumlah 55. Hal ini tidak mungkin dilakukannya karena ia harus membagi uang sesuai intensitas kebutuhan, demikian juga untuk kebutuhan yang lain. Jika uang yang dimilikinya Rp 600.000,00 dan setiap satuan jumlah kebutuhan, misalnya Rp 50.000,00, jumlah satuan kebutuhan yang terpenuhi, yaitu:

           Jumlah uang                        600.000
                                                                                    =                                  =          30 unit
                                Kebutuhan per satuan              50.000

Hukum Gossen II tersebut merupakan pemuasan kebutuhan secara horizontal, yaitu pemuasan kebutuhan yang tidak bertumpu pada satu barang saja, tetapi pada banyak barang berdasarkan intensitasnya.

4.    Teori Perilaku Konsumen

a)      Teori Nilai Guna Kardinal
Menurut teori ini, kegunaan barang dapat dihitung secara nominal, sebagai mana kita menghitung berat dengan gram, dan panjang dengan meter. Satuan untuk kegunaan barang dalam ekonomi adalah util. Total uang yang dikeluarkan untuk konsumsi adalah jumlah unit barang dikalikan harga per unit. Untuk setiap unit tambahan konsumsi, tambahan biaya yang harus dikeluarkan sama dengan harga barang per unit.

b)     Teori Nlai Guna Ordinal
Menurut teori ini, kegunaan barang tidak dapat dihitung, hanya saja dapat dibandingkan dengan barang / jasa yang lain, contohnya adalah kecantikan seseorang. Untuk memudahkan pemahaman dapat kita lihat tabel berikut ini.

Makan Bakso
(Mangkuk per bulan)
Makan Satai Ayam
(Porsi per bulan)
Nilai
Kepuasan
10
8
6
4
3
3
4
6
8
10
100
100
100
100
100

         Dalam nilai guna ordinal, tabel menunjukkan kombinasi alternatif dari dua produk yang berbeda. Tabel berikut digunakan untuk menentukan suatu keseimbangan pembelian konsumen dari dua produk dan menganalisis pengaruh perubahan harga relatif di kedua produk tersebut terhadap jumlah yang diminta.
         Disini konsumen harus mengorbankan salah satu produk, jika menginginkan produk lain untuk dikonsumsi lebih banyak.

5.    Pola Hidup Hemat
Hidup hemat diperlukan agar pendapatan yang kita terima lebih besar dari pengeluaran, sehingga tidak menimbulkan utang yang akan memberatkan diri sendiri. Penghematan dapat dimulai dengan pengendalian konsumsi melalui pencatatan berkala. Selain itu, kita perlu mengetahui ciri-ciri hidup hemat dan boros, agar kita mampu melakukan penghematan yang diharapkan. Ciri-ciri hidup hemat dan boros akan dijelaskan
a)      Ciri-Ciri Hidup Hemat
1.      bersifat wajar (tidak menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang tidak perlu).
2.      sederhana.
3.      tidak berlebih-lebihan.

b)     Ciri-Ciri Hidup Boros
1.      mempunyai sifat konsumtif, yaitu membeli barang-barang yang kurang penting.
2.      kurang memikirkan hari depannya, dan cenderung mencari kesenangan belaka.
3.      terlalu mementingkan penampilan lahiriah.

UNAS yang Menakutkan Namun Ramah

Kata-kata UNAS selalu muncul di setiap tahunnya di antara bulan Maret sampai dengan Juni. Kata ini sering menjadi momok besar bagi kalangan siswa yang dalam tahap akhir studi mereka, entah pada jenjang SMP atau SMA.
Semakin mendekati hari-H, semakin besar tingkat kecemasan siswa dalam menghadapi UNAS. Orang tua pun ikut mengkhawatirkan putra-putri mereka, bahkan tidak jarang guru khawatir dengan anak didik mereka. Tentu saja, posisi peringkat nilai terbaik dan presentasi kelulusan akan menjadi tolak ukur bagi para calon siswa baru.
Semakin meningkatnya batas nilai kelulusan semakin meningkat pula tingkat kecemasan dan stress siswa. Bayangkan saja, siswa yang biasanya menghabiskan materi 1 semester secara tepat waktu kini harus melahap materi 2 semester plus rangkuman materi kelas 1 dan 2 dalam jangka waktu sekitar 6-8 bulan. Ototmatis para guru pun ikut kewalahan dalam mempersiapkan akselerasi tersebut dan para orang tua harus rela menyisihkan sebagian penghasilan untuk membayar bimbingan belajar.
Namun UNAS yang terlihat sebagai suatu rintangan besar tersebut ternyata berwajah ramah bagi beberapa pihak seperti penerbit buku, bimbingan belajar. Terbukti banyak produk dari pihak-pihak tersebut seperti menjadi semakin laku ketika menjelang UNAS.
Jadi, apakah UNAS menakutkan bagi semua orang? Tidak.... :)

Cerpen saat SMP ^^

KELEGAAN HATI

“Tep-tep-tep” terdengar suara langkah kaki yang memasuki pelataran rumah. Terlihat seorang anak laki-laki datang dengan langkah lunglai duduk di atas kursi kayu yang sudah lapuk., sambil merenungkan kejadian siang tadi di sekolah. “Ah, bodoh banget sih aku ini. Harusnya mereka tadi kubantu cari data. Lagian hari ini juga nggak ada les. Aduh sial, SIAAAL!” batinnya dalam hati. “Daichi, Daichi, ayo cepat makan kesini. Nanti makanannya keburu dingin lho” terdengar suara ibunya memanggil. Diliriknya arloji “made in Indonesia”-nya itu. “Haaah, sudah jam dua siang?? Lama sekali aku duduk tadi.” Dengan bergegas Daichi menemui ibunya. “Ada apa kok kamu duduk termenung di teras? Habis berkelahi ya?” tanya sang ibu lembut, menanggapi raut muka anaknya yang murung. “Nggak kok ma. Aku cuma menyesal sudah menolak ajakan si Sora ke warnet untuk cari data pelajaran di internet. Harusnya aku ‘kan bisa jadi ‘orang pintar’ disana. Lagian kasihan juga ‘kan kalau dia nggak bisa. Nanti malah cuma bengong aja.” Jawab Daichi jujur. “Terus kenapa kau tolak, Daichi?” tanya ibu kembali. “Yah, karena temannya Sora yang bernama Ryuko itu nyontek pekerjaanku waktu try out. Aku kan jadi males sama dia. Tapi entah kenapa aku juga jadi nggak suka sama kelompoknya, termasuk Sora. Jadi tadi siang aku ogah-ogahan untuk bantuin mereka. Tapi entah kenapa aku merasa kalau aku harus bantu mereka. Sayangnya, si Ryuko bilang, kalau aku nggak mau ikut, aku boleh pulang. Kan jadinya terlihat kalau aku ini nggak dibutuhkan.” Kata Daichi lirih. Sang ibu mengelus kepala anaknya, lalu berkata, “Ya sudah. Lebih baik sekarang kamu makan dulu, biar pikiran jadi tenang. Akan tetapi, walaupun sudah dilakukan, kejadian tadi siang masih saja menghantui pikiran Daichi. Hampir selalu terbesit pikiran untuk meminta maaf kepada Sora. Sampai malam tiba, tepatnya saat Daichi akan tidur, ia membuat pernyataan pada diri sendiri. “Baiklah. Besok aku akan minta maaf karena sudah mengecewakan dirinya. Kalau perlu aku akan ajak Sora ke warnet berdua.” Bisiknya dalam hati.
Keesokan harinya saat istirahat sekolah, dimana siswa SMP keluar kelas untuk mampir di kantin pak Ken, Daichi pergi ke kelas Sora sendirian. “Sora, maafkan aku kemarin ya. Aku tidak bisa menemani kamu ke warnet untuk cari data. Aku tahu kalau kamu sangat kecewa terhadapmu. Kamu mau ‘kan maafkan aku? Pinta Daichi. Si gadis tersenyum dan berkata, “Oh, tentu saja. Malah aku yang seharusnya berterima kasih kepadamu karena aku sudah kau ajari cara membuka internet waktu itu. Kemarin juga kami sedikit coba-coba dan kita bisa temukan karena caramu itu.” “Hah, sungguh? Terima kasih sudah mau maafkan diriku ini. Hmmm... kamu mau nggak kalau kapan-kapan kamu kuajak ke warnet berdua? Nanti akan aku ajarkan cara buat E-mail dan chatting. Gimana?” ajak Daichi malu-malu. “Boleh kok. Tapi kalau ada waktu luang saja ya...”jawab Sora sambil tertawa. “Daichi, Daichi. Maafin aku ya kalau 2 hari yang lalu aku sudah nyontek semua jawaban kamu. Waktu itu aku bener-bener nggak bisa ngerjakan” kata Ryuko nyerobot. “Yah, tapi lain kali jangan ya” kata Daichi. “Hooii Daichi, jangan pacaran melulu. Sudah waktunya masuk!”kata Rick mengingatkan. “Ya sudah kalau begitu. Aku masuk kelasku dulu. Da...da....” Dengan demikian, legalah perasaan Daichi dari penyesalan yang sepanjang hari yang lalu menghantui hati. Kini dia mampu tersenyum menatap hari depan yang telah menantikan dirinya.

Curhat: SHOW OFF!

Pada pertemuan kali ini kelompok kami (bebeeekk) melakukan show off yaitu sebuah drama superhero, sesuai dengan tugas show off yang bertemakan box office.
Pada awalnya ketika kami mulai diberi tugas kami masih bingung tentang konsep yang akan kami tampilkan di panggung. Sebab kami khawatir jika apa yang akan kami tampilkan nanti sama dengan kelompok yang lain. Akhirnya kami bertukar pikiran dan membuat konsep cerita tentang super hero. Kami juga berusaha memberikan suatu nilai pelajaran dalam drama tersebut yaitu mementingkan persahabatan daripada berebut pasangan. Tokoh-tokoh super hero pun dipilih, antara lain batman, superman, spiderman, zorro, wonder woman, saras 008. dsb.
Pada pertemuan kelompok berikutnya kami membuat scenario dari drama tersebut. Tika dan Hani membuat jalan cerita dari drama, sedangkan yang lain menyiapkan properti, kostum, dan lain-lain. Beberapa orang menggunting karton agar berbentuk sayap, yang lain menggambar kardus untuk membuat background, yang lain membuat topeng, icon, dan lain-lain.
Pada pertemuan berikutnya ketika scenario sudah jadi, kami membagi karakter drama kepada masing-masing anggota kelompok. Setelah itu kami mencoba mempraktekan suara dari scenario yang telah dibuat sesuai dengan karakter masing-masing. Setelah usai melakukan uji suara kami melanjutkan proses pembuatan properti…
Kami mencoba untuk melakukan acting secara garis besar. Beberapa adegan bisa dilakukan pada latihan ini sebagai persiapan di panggung sebenarnya.
Hari berikutnya adalah hari pertunjukan yang pertama. Kami mendapatkan giliran ke-7 alias maju pada pertunjukan kedua (minggu depan). Kami pun bisa agak santai dan menikmati penampilan dari kelompok lain. Penampilan pada kali ini memiliki judul “Petualangan Zaenab”, “Twoilet Saga” dan “Red Keset”. Penampilan favorit saya yaitu “Red Keset”, sebab para pemain di sini benar-benar menghayati karakter mereka di panggung dan tidak ragu-ragu untuk berakting. Selain itu kekompakan anggota kelompok tersebut baik, kecuali untuk salah satu part dari penampilan tersebut yang pemainnya terlihat ragu-ragu. Sempat saya agak ragu untuk menampilkan drama kelompok kami dengan baik ketika saya mendengarkan komentar dari para juri. Drama yang kami kira cukup baik ternyata tidak bisa memberikan nilai yang maksimal. Kami pun mencoba untuk menarik pelajaran mengenai penampilan dari kelompok lain.
Pada pertemuan kelompok berikutnya kami mengadakan dubbing suara sebab menurut kelompok kami jumlah mic yang ada kurang memadai dan dengan penggunaan mic secara bergantian menyebabkan adegan terasa kaku. Kami pun melakukan dubbing yang diproses oleh mbak Ajeng.
Pada hari H, kami bersiap dengan semua properti dan kostum. Kami pun mulai melakukan penampilan. Sayangnya kami membuat banyak kesalahan dan membuat drama terkesan kacau. Drama pun berakhir dan kami menerima nilai dari juri.
Dari tugas show off tersebut kami mendapatkan banyak pelajaran, terutama masalah teamwork. Sebenarnya kami tidak melakukan gladi bersih untuk drama tersebut, terutama untuk menyesuaikan adegan dengan dubbing. Akibatnya pembagian waktu tampil masing-masing anggota menjadi tidak jelas dan menyebabkan kebingungan bagi anggota kelompok. Selain itu jumlah anggota yang relatif banyak menyulitkan proses latihan. Sulitnya koordinasi ini mengurangi frekuensi latihan dan cenderung sulit untuk dibuat on-time.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Macys Printable Coupons